Ummu Khadeeja's Blog

July 19, 2010

Pergaulan Antara Lelaki dan Perempuan Menurut Pandangan Syariat

Filed under: Adab/Akhlak,Fatwa — Ummu Khadeeja @ 9:36 am
Tags: , ,

Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi yang telah diutus oleh Allah sebagai rahmat untuk alam ini, kepada keluarga, sahabat, dan para pengikutnya (yang baik) sampai hari kiamat. Amma ba’du.

Ikhtilat Antara Laki-Laki dan Wanita Terdiri dari Tiga Keadaan

Keadaan Pertama

Ikhtilat yang terjadi antara mahram, Dibolehkan secara syar’i dan tidak ada khilaf (di antara para ulama) tentang kebolehannya. Demikian juga, ikhtilat di antara laki-laki dan wanita yang sudah ada ikatan pernikahan. (Kebolehan) ikhtilat jenis ini terdapat di dalam nash-nash yang menunjukkan akan haramnya (menikah) antara mahram. Kemudian, ikhtilat yang dibolehkan berikutnya adalah ikhtilat antara laki-laki dan wanita, yang mana boleh bagi wanita tersebut menampakkan perhiasaanya di depan laki-laki tersebut.

Allah Ta’ala berfirman,

حُرِّمَتْ عَلَيْكُمْ أُمَّهَاتُكُمْ وَبَنَاتُكُمْ وَأَخَوَاتُكُمْ وَعَمَّاتُكُمْ وَخَالاَتُكُمْ وَبَنَاتُ الأَخِ وَبَنَاتُ الأُخْتِ وَأُمَّهَاتُكُمُ اللاَّتِي أَرْضَعْنَكُمْ وَأَخَوَاتُكُم مِّنَ الرَّضَاعَةِ وَأُمَّهَاتُ نِسَآئِكُمْ وَرَبَائِبُكُمُ اللاَّتِي فِي حُجُورِكُم مِّن نِّسَآئِكُمُ اللاَّتِي دَخَلْتُم بِهِنَّ فَإِن لَّمْ تَكُونُواْ دَخَلْتُم بِهِنَّ فَلاَ جُنَاحَ عَلَيْكُمْ وَحَلاَئِلُ أَبْنَائِكُمُ الَّذِينَ مِنْ أَصْلاَبِكُمْ وَأَن تَجْمَعُواْ بَيْنَ الأُخْتَيْنِ إَلاَّ مَا قَدْ سَلَفَ إِنَّ اللّهَ كَانَ غَفُوراً رَّحِيماً

“Diharamkan atas kalian (menikahi) ibu-ibu kalian, anak-anak kalian yang wanita, saudara-saudara kalian yang wanita, saudara-saudara ibu kalian yang wanita, anak-anak wanita dari saudara-saudara kalian yang laki-laki, anak-anak wanita dari saudara-saudara kalian yang wanita, ibu-ibu yang menyusui kalian, saudara wanita sepersusuan, ibu-ibu istri kalian (mertua), anak-anak istri kalian yang dalam pemeliharaan kalian dari istri yang telah kalian campuri, tetapi jika kalian belum campur dengan istri kalian itu (yang sudah kalian ceraikan), maka tidak berdosa bagi kalian menikahinya, (dan diharamkan bagi kalian) istri-istri anak kandung kalian (menantu) dan menghimpunkan (dalam pernikahan) dua wanita yang bersaudara, kecuali yang telah terjadi masa lampau. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Qs. an-Nisa': 23)

Allah Ta’ala juga berfirman,

وَقُل لِّلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ آبَائِهِنَّ أَوْ آبَاء بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَائِهِنَّ أَوْ أَبْنَاء بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي أَخَوَاتِهِنَّ أَوْ نِسَائِهِنَّ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُنَّ أَوِ التَّابِعِينَ غَيْرِ أُوْلِي الْإِرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ أَوِ الطِّفْلِ الَّذِينَ لَمْ يَظْهَرُوا عَلَى عَوْرَاتِ النِّسَاء وَلَا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِن زِينَتِهِنَّ وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعاً أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Dan janganlah mereka (wanita beriman) menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengetahui tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya supaya diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kalian beruntung.” (Qs. an-Nur: 31)

Keadaan Kedua

Ikhtilat yang berdosa, yaitu ikhtilat yang tujuannya adalah zina dan kerosakan, maka hukumnya haram berdasarkan nash dan ijma’ . Di antaranya, Allah Ta’ala berfirman,

وَلاَ تَقْرَبُواْ الزِّنَى إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاء سَبِيلاً

“Janganlah kalian mendekati zina. Sesungguhnya zina itu merupakan perbuatan yang keji dan jalan yang buruk.” (Qs. al-Isra': 32)

Allah Ta’ala juga berfirman,

وَالَّذِينَ لَا يَدْعُونَ مَعَ اللَّهِ إِلَهاً آخَرَ وَلَا يَقْتُلُونَ النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ وَلَا يَزْنُونَ وَمَن يَفْعَلْ ذَلِكَ يَلْقَ أَثَاماً

“Dan orang-orang yang tidak menyembah Ilah (sesembahan) yang lain beserta Allah dan tidak membunuh  jiwa yang diharamkan Allah (untuk dibunuh) kecuali dengan alasan yang benar, dan tidak berzina. Barangsiapa yang melakukan demikian itu, niscaya akan mendapatkan (pembalasan) dosanya.” (Qs. al-Furqan: 68)

Keadaan Ketiga

Ikhtilat di antara bukan mahram yang terjadi di sekolah-sekolah, pejabat, jalan-jalan, rumah sakit, pengangkutan awam, dan tempat-tempat umum lainnya. Ikhtilat ini boleh menjadi jalan bagi terfitnahnya laki-laki dengan wanita, atau sebaliknya. Maka, hukum ikhtilat yang seperti ini terlarang, kerana ditinjau dari adanya saling ketertarikan antara laki-laki dan perempuan akan membawa kepada jenis ikhtilat kedua iaitu berupa kerosakan, kekejian, dan kemungkaran. Sebagaimana kaidah:

الوَسَائِلُ لَهَا حُكْمُ المَقَاصِدِ

“Jalan memiliki hukum sebagaimana tujuan.” [Lihat keadaan ketiga dalam fatwa dan risalah Syaikh Muhammad bin Ibrahim Ali asy-Syaikh (10/35–44).]

وَسِيلَةُ المَقْصُودِ مَقْصُودَةٌ

“Jalan yang membawa kepada tujuan (hukumnya) seperti tujuan.”

Akan tetapi, terdapat pelbagai permasalahan tentang jenis ikhtilat ketiga ini, yang sudah tersebar secara umum, khususnya di negara Aljazair, yang menimbulkan beberapa pertanyaan:

  1. Apakah dosa ikhtilat ini didapatkan oleh laki-laki dan wanita sekaligus, meskipun ada keperluan (syar’i) dan darurat, atau mereka tidak berdosa? Atau apakah dosanya hanya didapatkan oleh salah seorang dari mereka?
  2. Apakah dosa ikhtilat ini hukumnya tetap, meskipun aman dari fitnah atau berubah hukumnya? Apakah dosanya itu disebabkan oleh keluarnya wanita, sehingga terjadilah ikhtilat dengan para laki-laki, (serta) kerana mereka telah menyelisihi perintah untuk tetap tinggal di rumah sebagaimana asalnya. Apakah wanita tidak berdosa jika wanita itu keluar dari rumahnya kerana adanya keperluan syar’i dan keadaan darurat, dengan tetap menjaga aturan-aturan syariat saat keluar dari rumah?
  3. Apakah semua laki-laki yang berikhtilat dengan wanita adalah lelaki yang berdosa? Ataukah dosa mereka dilihat dari sisi yang lain, iaitu kerana mereka tidak memelihara dan mengambil langkah-langkah agar tidak terjatuh ke dalam fitnah dan kerosakan, iaitu dengan menahan pandangan, bertakwa kepada Allah sesuai dengan kemampuan ketika bermuamalah dengan para wanita, berpuasa, dan langkah-langkah lainnya yang dapat menjaga agama serta menjauhkan hati dari ketertarikan terhadap wanita?

Ini adalah permasalahan-permasalahan yang terjadi tentang ikhtilat jenis yang ketiga, sehingga memerlukan pembahasan dan perincian.

Sebab Terjadinya Ikhtilat

Layak untuk diperhatikan, bahawa sebab munculnya fitnah wanita adalah keluarnya mereka dari tempat asalnya, iaitu tetap berada di dalam rumah mereka sehingga tidak ada keperluan untuk berikhtilat dengan para laki-laki dan berhias di hadapan mereka. Hal tersebut disebabkan oleh pembenaran dan pengamalan atas firman Allah Ta’ala,

وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى

“Hendaklah kalian (para wanita) tetap berada di rumah-rumah kalian dan janganlah kalian berhias sebagaimana berhiasnya orang-orang jahiliyah zaman dulu.” (Qs. al-Ahzab: 33)

Oleh kerana itu, syariat tetap memerintahkan mereka untuk tinggal di rumah-rumah mereka dan melarang mereka keluar dari rumah kecuali jika ada keperluan syar’i. Sebagaimana telah disebutkan oleh hadits Saudah binti Zum’ah radhiyallahu ‘anha,

قَدْ أَذِنَ اللهُ لَكُنَّ أَنْ تَخْرُجْنَ لِحَوَائِجِكُنَّ

“Allah telah mengizinkan kalian (para wanita) untuk keluar untuk keperluan kalian.” [Dikeluarkan oleh Bukhari dalam (Nikah), bab “Keluarnya Wanita untuk Keperluannya”: (4939), Muslim dalam (Salam), bab “Bolehnya Keluarnya Wanita untuk Menunaikan Keperluan Manusia”: (5668), Ahmad: (23769), Baihaqi dalam (Sunan Kubra): (13793), dari hadist ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha.]

Iaitu, wanita yang keluar untuk memenuhi keperluannya. Khususnya, jika tidak ada orang yang menafkahi dia, atau dia keluar untuk perkara-perkara yang memang diperlukan atau kewajipan seperti menyambung tali silaturahim, serta yang terkait dengan keperluan wanita lainnya, selama aman dari fitnah.

Dengan demikian, bolehnya wanita keluar dari rumahnya pada keadaan tersebut merupakan pengecualian dari hukum asal, iaitu wanita tetap tinggal di rumah.

Berbeza hukumnya dengan laki-laki. Ketika mereka keluar untuk bekerja dan mencari rezeki, maka mereka memang diperintahkan untuk menafkahi keluarganya. Berdasarkan firman Allah Ta’ala,

لِيُنفِقْ ذُو سَعَةٍ مِّن سَعَتِهِ

“Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya.” (Qs. ath-Thalaq: 7)

Juga firman Allah Ta’ala,

وَعلَى الْمَوْلُودِ لَهُ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ

“Dan kewajiban ayah adalah memberi makan dan pakain kepada para ibu dengan cara yang ma’ruf.” (Qs. al-Baqarah: 233)

Allah mewajibkan bagi laki-laki untuk memberi nafkah pada istrinya dan menjadi pemimpin atas semua urusannya. Allah Ta’ala berfirman,

الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاء بِمَا فَضَّلَ اللّهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَبِمَا أَنفَقُواْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ

“Laki-laki adalah pemimpin bagi para wanita karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), serta karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka.” (Qs. an-Nisa': 34)

Maka, laki-laki adalah qayyim bagi para wanita iaitu pemimpinnya dan menjadi hakim atasnya. Hal ini disebabkan oleh keutamaan yang ada pada laki-laki daripada wanita, serta kerana laki-laki telah memberi nafkah dan mahar kepada mereka, sehingga layak untuk memimpin mereka (wanita). [Tafsir Ibnu Katsir (1/491)]

Sebagaimana firman Allah Ta’ala,

وَلِلرِّجَالِ عَلَيْهِنَّ دَرَجَةٌ

“Bagi laki-laki ada mempunyai satu tingkatan lebih daripada wanita.” (Qs. al-Baqarah: 228)

Para wanita akan ditanya tentang tempat yang menjadi tanggungjawabnya. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

وَالمرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى أَهْلِ بَيْتِ زَوْجِهَا وَوَلَدِهِ وَهِيَ مَسْئُولَةٌ عَنْهُمْ

“Wanita adalah pemimpin di rumah tangga suami dan pemimpin anak-anaknya, dan dia akan ditanya tentang mereka.” [Bukhari mengeluarkannya dalam (Ahkam), bab Firman Allah: ” taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu”: (7138), Muslim dalam (Imaroh) bab
Keutamaan Pemimpin yang Adil dan Balasan Bagi yang Zalim”: (1829), Abu Daud dalam (Kharaj dan Imaroh), bab “Apa yang harus dipenuhi pemimpin dari hak rakyat: (2928) dan Turmudzi dalam (Jihad), bab “Hal-hal tentang Pemimpin”: (1705), dari hadist Abdullah bin Umar radhiyallahu’anhuma.]

Dalil-dalil ini menegaskan dan menguatkan tentang hukum asal tempat wanita (iaitu, di rumahnya), sebagaimana firman Allah Ta’ala,

وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى

“Tetaplah kalian berada dirumah-rumah kalian dan janganlah kalian berhias sebagaimana berhiasnya orang-orang jahiliyah zaman dulu.” (Qs. al-Ahzab: 33)

Oleh kerana itu, tidak boleh bagi para laki-laki untuk masuk ke dalam rumah wanita, berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

Hati-hatilah kalian ketika masuk ke dalam (rumah) wanita. Salah seorang sahabat dari kalangan Anshar berkata, “Wahai Rasulullah, bagaimana pendapatmu tentang saudara ipar?” Beliau menjawab, “Saudara ipar adalah al-maut (bahaya).” [Bukhari mengeluarkannya dalam (Nikah), bab “Laki-laki Tidak Bertamu kepada Perempuan Kecuali Mahramnya”: (4934), Muslim dalam (Salam), bab “Larangan Berduaan dengan Wanita yang Bukan Mahram dan Bertamu Kepadanya”: (5674), Turmudzi dalam (Radha’), bab “Hal-hal Tentang Dibencinya Bertamu Kepada Istri-istri yang Ditinggal Suaminya”: (1171), dan Ahmad: (16945), dari hadist Uqbah bin ‘Amir radhiyallahu ‘anhu.]

Meskipun wanita dibolehkan keluar dari tempat asalnya (rumahnya) kerana adanya pengecualian, tetapi disyaratkan bahawa hal tersebut dibolehkan jika aman dari fitnah dan tetap menunaikan aturan-aturan syariat [Syaikh Abdullah bin Abdurrahman bin Jibrin rahimahullah ditanya tentang wanita yang belajar di universiti yang bercampur-baur antara laki-laki dan perempuan, Beliau menjawab, “Kami memberikan wasiat kepadamu untuk memegang teguh agama, selalu menggunakan hijab syar’i dan besemangat untuk menutup diri, menjauhi ikhtilat, menyelisihi laki-laki, serta menjaga diri dari sebab-sebab kemaksiatan dan dosa. Kami juga mewasiatkan kepadamu untuk bersemangat dalam mentaati ibu dan membahagiakannya, mencari keridhaannya semampunya untuk melanjutkan pendidikan jika aman dari fitnah. Jika diperlukan untuk masuk sekolah yang terdapat ikhtilat di dalamnya, hendaknya setiap pemudi menjauhi pemuda dan menutup diri, dan tidak menampakkan perhiasan dengan semampunya. Wallahu A’lam. (Dari laman rasmi Syaikh Abdullah bin Abdurrahman bin Jibrin rahimahullah, no. fatwa: 12636)].

Di antara syarat tersebut adalah tetap mengenakan jilbab, tidak memakai wangian, berjalan di tepi jalan bukan di tengahnya, tetap menjaga diri dari perbuatan atau gerakan tubuh yang dapat mengundang perhatian dan syahwat para laki-laki, dalam rangka untuk menjaga diri dari jerat-jerat syaitan dan menjauhkan diri dari tipu dayanya, kerana setan selalu memerintahkan kepada perbuatan keji dan mungkar. Demikian juga, jiwa manusia itu cenderung untuk memerintahkan kepada keburukan, kerana hawa nafsu itu boleh membutakan orang dan membuat orang tidak mampu lagi mendengar (nasihat).

Fitnah ini terjadi kerana wanita keluar dari tempat asalnya (rumah) tanpa ada keperluan syar’i dan keadaan yang mengharuskan dia (untuk keluar). Maka, tidak diragukan lagi kalau wanita tersebut berdosa, kerana dia menjadi penyebab fitnah.

Adapun laki-laki, maka dia tidak berdosa jika dia benar-benar mengingkari hal tersebut seboleh mungkin, demi penjagaan terhadap agama dan keselamatan kehormatannya. Demikian ini dilakukan dengan menempuh penyebab yang dapat menjaga supaya tidak tertarik kepada para wanita dan terjerumus ke dalam jerat-jerat mereka. [Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah ditanya, “Bolehkan seorang muslim masuk pasar sedangkan dia tahu bahawa di dalamnya ada wanita yang berpakaian tapi telanjang dan ada ikhtilat yang tidak diridhai Allah ‘Azza wa Jalla? Beliau menjawab, “(Pasar yang seperti itu tidak boleh dimasuki kecuali bagi orang yang akan melakukan amar ma’ruf nahi munkar, atau untuk keperluan mendesak dengan menundukan pandangan dan berhati-hati dari sebab-sebab fitnah, demi menjaga kehormatannya, dan menjauhi keburukan).” (Fatawa –Kitab Dakwah Syekh Bin Baz (2/227, 228). Lihat: [Fatawa Wanita Muslimah] memperhatikannya Ibnu Abdul Maqsud: (2/574), Adhwa’ Assalaf, Dar Ibnu Hazm)

Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah ditanya, “Di universiti kami di Mesir banyak terjadi ikhtilat antara mahasiswa dan mahasiswi, lalu apa yang harus kami lakukan sedangkan kami memerlukan pendidikan itu untuk Islam dan kaum muslimin di negara kami, dan tidak membiarkan tempat-tempat tersebut diambil alih oleh non-muslim sehingga mereka dapat menguasai urusan-urusan kaum muslimin yang penting, seperti: kedoktoran, teknik, dan lain-lain? Beliau menjawab, “Ikhtilat antara laki-laki dan perempuan adalah fitnah yang besar, maka jagalah diri kalian darinya seboleh mungkin, dan ingkarilah semampunya. Kami memohon keselamatan kepada Allah bagi diri kami dan kalian.” (Dari risalah Syaikh dengan tulisan tangannya, pada tanggal 4/4/1406 H, dari Fatawa Syaikh Muhammad Shaleh Al ‘Utsaimin (2/896). Lihat: (Fatawa Wanita Muslimah) yang diperhatikan Ibnu Abdul Maqsud: (2/572), Adhwa’ Assalaf – Dar Ibnu Hazm)

Syaikh Abdullah bin Abdurrahman bin Jibrin rahimahullah ditanya tentang permasalan bermuamalah dengan wanita saat bekerja. Beliau menjawab, “Kami menasihatkan kepadamu untuk meninggalkan pekerjaan yang terdapat ikhtilat dengan wanita, apalagi jika mereka tidak bertudung. Akan tetapi jika Anda harus melakukan pekerjaan itu, menjadi kewajiban Anda untuk mengarahkan mereka untuk berhijab dan menutup diri. Hendaknya Anda tidak berbicara dengan mereka kecuali seperlunya saja, tanpa disertai lemah-lembut. Jangan berduaan dengan salah satu dari mereka, bahkan jangan duduk bersama mereka kecuali darurat dengan kondisi ruangan yang tidak tertutup dan terdapat kumpulan orang laki-laki dan perempuan. Anda juga harus mengarahkan wanita-wanita tersebut untuk menjauhi kumpulan laki-laki demi keamanan dan menjauhi fitnah beserta sebab-sebabnya.” (Dari laman rasmi Syaikh Abdullah bin Abdurrahman bin Jibrin rahimahullah, no. fatwa: 12627)]

Tidak mengapa bila wanita yang keluar dari rumah kerana adanya keperluan syar’i, berdasarkan hadits Saudah binti Zum’ah radhiyallahu ‘anha sebelumnya, tetapi dengan syarat: tidak menimbulkan fitnah, dengan tetap memegang dan melaksanakan aturan-aturan syariat. [Syaikh Shaleh bin Fauzan bin Abdullah Al Fauzan hafizahullah ditanya, “Apa hukum percakapan antara wanita dengan pemilik kedai baju dan penjahit? Beserta arahan secara umum bagi wanita.” Beliau menjawab, “Pembicaraan seorang perempuan dengan pemilik kedai adalah pembicaraan yang sesuai keperluan, tidak ada fitnah di dalamnya maka tidaklah mengapa. Kaum wanita hendaklah berbicara dengan laki-laki dalam keperluan dan urusan-urusan yang tidak mengandung fitnah sesuai dengan keperluan. Adapun jika disertai dengan gurauan dan basa-basi atau dengan suara yang mengundang fitnah, maka hal itu terlarang dan tidak diperbolehkan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman kepada isteri-isteri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai isteri-istri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan yang baik.” (Qs. al-Ahzab: 32), dan perkataan yang baik atau ma’ruf adalah perkataan yang dimengerti oleh manusia dan sebatas keperluan.

Adapun selebihnya, berupa gurauan, basa-basi, suara yang mengandung fitnah, atau hal lainnya, atau membuka wajahnya di depan pemilik kedai, membuka pergelangan atau telapak tangannya, maka semuanya itu adalah hal yang haram, munkar, mengundang fitnah, dan merupakan sebab terjatuhnya dalam perbuatan keji. Wajib bagi seorang wanita muslimah yang takut kepada Allah untuk bertakwa kepada-Nya, dan tidak berbicara kepada laki-laki dengan perkataan yang mengundang fitnah terhadap hati-hati mereka, dan menjauhi hal-hal tersebut. Apabila perlu untuk pergi ke kedai atau tempat yang ada laki-lakinya, maka hendaklah malu, menutup diri dan beradab dengan adab Islam. Dan jika berbicara dengan laki-laki hendaklah berbicara dengan baik, tanpa fitnah dan kebimbangan di dalamnya. (Al-Mufti dari Fatawa Syekh Shaleh bin Fauzan: 3/156, 157)]

Perlu diketahui bahawa ikhtilat yang demikian ini tidaklah diharamkan zat-nya. Oleh kerana itu, terdapat kaidah fikih yang menyatakan:

مَا حُرِّمَ لِذَاتِهِ يُبَاحُ عِنْدَ الضَّرُورَةِ وَمَا حُرِّمَ لِغَيْرِهِ يُبَاحُ عِنْدَ الحَاجَة

“Sesuatu yang diharamkan zat-nya adalah dibolehkan ketika keadaan darurat, dan sesuatu yang diharamkan kerana sebab yang lainnya adalah dibolehkan ketika ada keperluan.”

مَا حُرِّمَ سَدًّا لِلذَّرِيعَةِ أُبِيحَ لِلْمَصْلَحَةِ الرَّاجِحَةِ

“Sesuatu yang diharamkan untuk menutup jalan terhadap sesuatu yang haram adalah diperbolehkan jika ada maslahat yang lebih kuat.”

Di antara contoh kaidah ini adalah firman Allah Ta’ala,

قُل لِّلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ

“Katakanlah kepada laki-laki yang beriman, ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya. Yang demikian itu lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu yang mereka perbuat.” (Qs. an-Nur: 30)

وَقُل لِّلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ

“Katakanlah kepada wanita yang beriman, ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya”. (Qs. an-Nur: 31)

Ketika menjelaskan sisi pendalilan ayat ini, Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Ketika menundukkan pandangan merupakan cara utama untuk menjaga kemaluan, maka penyebutannya didahulukan. Ketika haramnya (melihat wanita) disebabkan oleh keharaman wasilah atau sarana, maka dibolehkan (memandang wanita), jika ada maslahat yang lebih besar, dan diharamkan jika dikhawatirkan dapat menimbulkan kerosakan. Maslahat yang lebih besar ini dengan kerosakan (akibat memandang wanita) bukan merupakan hal yang dipertentangkan, kerana Allah tidaklah memerintahkan menundukkan pandangan secara mutlak. Akan tetapi, Allah memerintahkan untuk menundukkan sebagian pandangan. Adapun menjaga kemaluan, maka hukumnya wajib dalam setiap keadaan, tidaklah dibolehkan kecuali terhadap orang yang halal. Hal ini disebabkan oleh keumuman perintah untuk menjaga kemaluan.” [Raudhatul Muhibbin, Ibnul Qayyim (92).]

Di antara dalil dari sunnah Nabi yang menunjukkan kaidah ini adalah:

“Pada suatu hari, Ummu Kultsum binti Uqbah bin Abi Mu’aith keluar untuk melakukan safar ke rumah Rasulullah shallallahu’ alaihi wa sallam, ketika itu dia sudah tua. Maka, datanglah suaminya untuk meminta Rasullallah shallallahu’ alaihi wa sallam supaya mengembalikan Ummu Kultsum kepadanya. Akan tetapi Rasullallah shallallahu’ alaihi wa sallam tidak mengembalikan Ummu Kultsum kepadanya, sehingga turun ayat tentang wanita ini,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا جَاءكُمُ الْمُؤْمِنَاتُ مُهَاجِرَاتٍ فَامْتَحِنُوهُنَّ اللَّهُ أَعْلَمُ بِإِيمَانِهِنَّ فَإِنْ عَلِمْتُمُوهُنَّ مُؤْمِنَاتٍ فَلَا تَرْجِعُوهُنَّ إِلَى الْكُفَّارِ

“Wahai orang-orang yang beriman, apabila datang berhijrah kepadamu perempuan-perempuan yang beriman, maka hendaklah kamu uji (keimanan) mereka. Allah lebih mengetahui tentang keimanan mereka. Jika kamu telah mengetahui bahwa mereka (benar-benar) beriman maka, janganlah kamu kembalikan mereka kepada (suami-suami mereka) orang-orang kafir.”(Qs. al-Mumtahanah: 10)

Demikian juga, safarnya Aisyah radhiyallahu ‘anha ketika tertinggal (dari rombongan Nabi) bersama Shafwan bin Muatthal. [Bukhari mengeluarkannya dalam (Maghazy) (7/431), bab “Hadits Ifki”, No (4141), dan Muslim dalam (Taubat) (17/102), bab “Hadist Ifki dan Diterimanya Tobat Penuduh Zina”, dari hadist ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha.]

Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Terlarangnya berdua-duaan dengan wanita bukan mahram, safar dengannya, dan memandangnya adalah kerana (seluruh hal tersebut) akan menimbulkan kerosakan. Oleh kerana itu, maka wanita dilarang untuk melakukan safar, kecuali jika dia bersafar bersama dengan suami atau mahramnya.

Sesungguhnya, hal tersebut terlarang dengan tujuan untuk mencegah jalan menuju suatu hal yang haram. Hal ini dibolehkan jika ada maslahat yang lebih besar, sebagaimana dibolehkan memandang wanita yang akan dilamar. Dengan demikian, safar bersama wanita yang dikhawatirkan keselamatannya, seperti safarnya wanita dari negeri kafir, sebagaimana yang dilakukan oleh Ummu Kultsum, serta safarnya Aisyah ketika tertinggal (dari rombongan Nabi) bersama Shafwan bin Muatthal adalah safar yang tidak terlarang, kecuali jika hal tersebut membawa kepada kerosakan. Jika hal tersebut untuk meraih maslahat yang lebih besar, maka (pertimbangan akan) kerosakan atau mafsadatnya boleh diabaikan.” [Majmu’ Fatawa, Ibnu Taimiyah (23/186–187)]

Dengan demikian, jika tidak ada keperluan syar’i, maka terlarang bagi wanita untuk keluar (dari rumahnya). (Hal ini adalah) dalam rangka mencegah kerosakan.

Telah terdapat nash-nash dari sunnah Nabi yang menegaskan perkara ini, di antaranya:

Tidak disukai bagi wanita bila mereka keluar untuk mengiringi jenazah, sebagaimana hadits Ummu Athiyah radhiyallahu ‘anha, dia berkata,

كُنَّا نُنْهَى عَنِ اتِّبَاعِ الجَنَائِزِ، وَلَم يُعْزَمْ عَلَيْنَا

“Kami dilarang untuk mengiringi jenazah, namun bukanlah larangan yang ditekankan kepada kami.” [Bukhari mengeluarkannya di (Janaiz), bab “Wanita Mengikuti Jenazah”: (1219). Muslim di (Janaiz), bab “Larangan bagi Wanita untuk Mengikuti Jenazah”: (2166), dan Ahmad: (26758), dari hadist Ummu ‘Athiyah radhiyallahu ‘anha.]

Di antara sebab penjagaan dari terjadinya ikhtilat adalah larangan ikhtilat di dalam shaf ketika shalat. Nabi shallallahu’ alaihi wa sallam bersabda,

خَيْرُ صُفُوفِ الرِّجَالِ أَوَّلُهَا وَشَرُّهَا آخِرُهَا، وَخَيْرُ صُفُوفِ النِّسَاءِ آخِرُهَا وَشَرُّهَا أَوَّلُهَا

“Shaf terbaik bagi laki-laki adalah paling depan sedangkan yang terjelek adalah paling belakang, dan shaf terbaik bagi wanita adalah paling belakang sedangkan terjelek adalah paling depan.” [Muslim mengeluarkannya di (Shalat), bab “Meluruskan shaf, Menegakkannya, dan Keutamaan Shaf yang Pertama”: (1013), Abu Daud dalam (Shalat), bab “Shaf Wanita dan Tidak Disukainya Terlambat dari Shaf Pertama”: (687), Turmudzi dalam (Shalat), bab “Hal-hal Tentang Keutamaan Shaf Pertama”: (224), Nasa’i dalam (Imamah), bab “Shaf Perempuan”: (1053), dan Ahmad: (7565), dari hadist Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.]

Maka Nabi menginginkan jauhnya tempat wanita dari para laki-laki, dan menjadikan shaf terakhir wanita sebagai shaf terbaik baginya. Ini menunjukkan bahawa Islam sangat memperhatikan jauhnya tempat wanita dari para laki-laki. Demikian juga Nabi bersabda kepada para wanita,

لاَ تَرْفَعْنَ رُؤوسَكُنَّ حَتَّى يَسْتَوِيَ الرِّجَالُ جُلُوسًا

“Janganlah kalian (para wanita) mengangkat kepala kalian sehingga sama dengan posisinya laki-laki ketika duduk.” [Bukhari mengeluarkannya dalam (Shalat), bab “Jika Baju Sempit”: (355), Muslim dalam (Shalat), bab “Perintah bagi Wanita yang Shalat Di Belakang Laki-laki untuk Tidak Mengangkat”: (986), Abu Daud dalam (Shalat), bab Laki-laki yang Mengikat Baju Di Tengkuknya Kemudian Shalat”: (530), Nasa’i dalam (Qiblat), bab “Shalat Dengan Sarung”: (766) dan Ahmad: (15134), dari hadist Sahl bin Sa’ad radhiyallahu ‘anhu.]

Nabi shallallahu’alaihi wa sallam telah memberi berita tentang bahaya ikhtilat dan segala sesuatu yang dapat membawa kepada tersebarnya keburukan dan kerosakan disebabkan fitnah wanita, serta bahaya keluarnya wanita (dari rumahnya). Dalam sabda beliau,

مَا تَرَكْتُ فِتْنَةً أَضَرَّ بِهَا عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ

“Tidaklah aku meninggalkan fitnah yang lebih berbahaya bagi para laki-laki kecuali fitnah wanita.” [Bukhari mengeluarkannya dalam (Nikah), bab “Apa yang Dijaga dari Kesialan Wanita: (4808), Muslim dalam (Riqaq), bab “Mayoritas Penghuni Surga Adalah Orang-orang Miskin dan Mayoritas Penghuni Neraka Adalah Wanita”: (6945), Turmudzi dalam (Adab), bab “Riwayat Tentang Ancaman dari Fitnah Wanita”: (2780), Ibu Majah dalam (Fitan), bab “Fitnah Wanita”: (3989) dan Ahmad: (21239), dari hadist ‘Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhuma.]

فَاتَّقُوا الدُّنْيَا وَاتَّقُوا النِّسَاءَ، فَإِنَّ أَوَّلَ فِتْنَةِ بَنِي إِسْرَائِيلَ كَانَتْ فِي النِّسَاءِ

“Hati-hatilah kalian terhadap fitnah dunia dan fitnah wanita, kerana fitnah yang pertama kali menimpa Bani Israil adalah fitnah wanita.” [Muslim mengeluarkannya dalam (Zikir dan Do’a), bab “Majoriti Penghuni Syurga Adalah Orang-orang Miskin dan Majoriti Penghuni Neraka Adalah Wanita”: (6948), Turmudzi dalam (Fitan), (2191), Ibu Majah dalam (Fitan), bab “Fitnah Wanita”: (4000). Ibnu Hiban: (3221), Ahmad: (10785), dan Baihaqi: (6746) dari hadist Abu Sa’id al-Khudry radhiyallahu ‘anhu.]

إِيَّاكُمْ وَالدُّخُولَ عَلَى النِّسَاءِ. قَالُوا: أَرَأَيْتَ الحَمْوَ؟ قَالَ: الحَمْوُ المَوْتُ

“Hati-hatilah kalian ketika masuk ke dalam (rumah) wanita.” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulallah bagaimana menurutmu tentang saudara ipar?” Beliau menjawab, “Saudara ipar adalah al-maut (bahaya).”

Demikian juga, tafsir Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu terhadap firman Allah Ta’ala,

يَعْلَمُ خَائِنَةَ الأَعْيُنِ وَمَا تُخْفِي الصُّدُورُ

“Dia mengetahui mata yang berkhianat dan apa yang disembunyikan di dalam dada.” (Qs. Ghafir: 19)

“Iaitu, seorang laki-laki yang berada dalam suatu kampung, kemudian ada seorang wanita yang melewati kampung tersebut, maka laki-laki tadi memperlihatkan kepada warga kampungnya bahawa dia adalah orang yang menundukkan pandangan terhadap wanita tadi, sedangkan jika warga kampung lalai maka laki-laki tadi melihat wanita tersebut, maka jika laki-laki tadi khawatir terhadap warga kampungnya maka dia tundukkan pandangannya. Padahal Allah mengetahui apa yang ada didalam hatinya bahawa hatinya menginginkan untuk melihat aurat wanita tersebut.”

وإذا كان الله تعالى وصف اختلاس النظر إلى ما لا يحلُّ من النساء بأنَّها خائنة، -ولو كانت في بيوت محارمها- فكيف بالاختلاط الآثم المؤدِّي إلى الهلكة.

Maka apabila Allah mensifati memandang wanita yang tidak halal baginya merupakan pandangan khianat, meskipun berada di rumah mahram wanita tersebut, maka bagaimana lagi dengan ikhtilat terlarang yang dapat membawa kepada kebinasaan?

Tidak diragukan lagi bahawa penurunan dan kerosakan akhlak akan melemahkan umat dan kekuatan suatu bangsa, sebagaimana perkataan seorang penyair,

Sesungguhnya yang tersisa dari masyarakat adalah akhlak.
Jika akhlak sudah tidak ada, maka hancurlah masyarakat.

Seorang laki-laki jika pergi ke pejabat tempat dia kerja untuk mencari rezeki, maka tidak ada tuntutan supaya kembali ke rumahnya, meskipun tempat kerjanya tidaklah terbebas dari fitnah wanita. Akan tetapi, dia dituntut untuk memutus segala sebab yang dapat mendatangkan fitnah, iaitu dengan menundukkan pandangan, berhati-hati ketika berbicara dengan mereka (wanita), bertakwa kepada Allah dengan menjauhi (tempat) wanita sebisa mungkin. [Syaikh Muhammad bin Shaleh Al ‘Ustaimin rahimahullah ditanya tentang hukum belajar di sekolah yang berikhtilat. Beliau menjawab, “Bagaimanapun kami katakan, wahai Saudaraku, Anda harus mencari sekolah yang tidak seperti itu. Jika tidak ada dan Anda memerlukan pendidikan, maka hendaklah Anda membaca, belajar dan berusaha sekuat tenaga untuk menghindari perbuatan keji dan fitnah, dengan menundukkan pandangan, menjaga ucapan, tidak berbicara dengan perempuan dan tidak melewati mereka.” (Dari laman ‘Allamah Syekh Muhammad bin Shaleh al-‘Utsaimain, Maktabah Fatawa: Fatawa Nur ‘ala Ad Darbi (Nashiyah): Ilmu)]

Hanya saja, hal tersebut (kembali ke rumah) dituntut bagi wanita yang keluar dari tempat asalnya (rumah), maka wanita tersebut berdosa kerana telah menyelisihi dalil-dalil yang memerintahkan kepada wanita untuk tetap tinggal di rumahnya.

Selain itu, wanita tersebut berdosa kerana sebab berhias ketika keluar rumah, membuka wajah, atau malah seperti orang yang tidak berpakaian. Ini merupakan fitnah yang sangat berbahaya bagi para laki-laki, seluruh umat, dan agama.

Maka, bagi laki-laki yang berada di tempat kerjanya tidaklah berdosa jika dia berusaha menjaga agamanya semampu mungkin, kerana memberi nafkah kepada keluarga dan orang yang menjadi tanggungannya merupakan kewajiban baginya. Berbeza dengan wanita, dia adalah orang yang diberi makan. [Syaikh Abdullah bin Abdurrahman bin Jibrin rahimahullah ditanya tentang hukum belajar dan mengajar di sekolah yang berikhtilat. Beliau menjawab, “Terlarang bagi wanita untuk belajar di sekolah yang bercampur dengan laki-laki, baik itu sebagai murid ataupun sebagai guru; kerana adanya fitnah dalam hal tersebut. Adapun laki-laki, maka boleh bagi mereka untuk belajar dengan berusaha keras untuk menundukkan pandangan dan menjauhi wanita-wanita yang tidak bertudung. Wallahu a’lam.” (Dari laman rasmi Syaikh Abdullah bin Abdurrahman bin Jibrin rahimahullah, no. fatwa: 11661)]

Yang penting untuk diperhatikan adalah bahawa jika ada wanita yang keluar untuk keperluan syar’i, seperti menuntut ilmu syar’i, yang mana ilmu tersebut tidak dapat diperoleh kecuali dengan keluar rumah dan ilmu tersebut diperlukan untuk menjaga dirinya dari api neraka, kerana mengamalkan firman Allah Ta’ala,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا

“Wahai orang-orang yang beriman, jagalah diri-diri kalian serta keluarga kalian dari api neraka.” (Qs. at-Tahrim: 6)

Maka, keluarnya wanita tersebut dari rumahnya tidaklah berdosa dan tercela, kerana untuk mendapatkan maslahat (manfaat) yang lebih besar, sebagaimana yang telah dijelaskan. Menjaga diri agar tidak terjerumus ke dalam api neraka hanya bisa didapatkan dengan iman dan amal shalih, dan tidaklah mungkin memperoleh keduanya kecuali dengan ilmu syar’i yang benar, sebagaimana kaidah:

ما لا يتمُّ الواجب إلاَّ به فهو واجب

“Suatu kewajiban tidak dapat sempurna kecuali dengan perkara yang lain, maka perkara tersebut hukumnya menjadi wajib.”

Kemudian, jika wanita yang keluar rumah untuk tujuan bekerja dan memelihara kehidupannya kerana sudah tidak ada lagi orang yang menafkahinya saja diperbolehkan, maka keluarnya wanita untuk menegakkan agama dia lebih diperbolehkan lagi. Akan tetapi, keluarnya wanita tersebut tetap disyaratkan menjaga aturan-aturan syariat dan aman dari fitnah.

Kesimpulannya:

Merupakan kewajiban seorang laki-laki untuk berusaha sekuat tenaga mencari tempat kerja yang terhindar dari fitnah wanita atau paling tidak, sedikit fitnahnya, sebagai pengamalan kaidah “mencegah kerusakan lebih utama dari kehilangan kebaikan.”

Akan tetapi, jika tidak ada tempat kerja yang demikian, maka boleh baginya untuk pergi ke tempat kerja dan menyibukkan diri dengan pekerjaannya untuk memenuhi nafkahnya dan keluargannya. Sedangkan berikhtilatnya dengan wanita di tempat kerja tidaklah menjadi sebab untuk meninggalkan pekerjaannya.

Serta, tidaklah menjadi dosa baginya jika dia menjaga dirinya, membenci keadaannya itu, dan mengingkarinya walau dengan tingkatan pengingkaran yang paling rendah, sehingga dia tidak ridha dengan kemaksiatan yang terjadi kerana ikhtilat tersebut. Hal tersebut berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, “Jika kesalahan di muka bumi dilakukan, maka orang yang menyaksikannya dan membencinya –atau di riwayat yang lain, “…dan mengingkarinya,” maka dia seperti orang yang tidak menghadirinya. Sedangkan orang yang tidak menghadirinya dan dia ridha dengannya, maka dia seperti orang yang menyaksikannya.” [Abu Daud mengeluarkannya dalam (Malamih), bab “Perintah dan Larangan”: (4345), dan Thabari dalam (Mu’jam Kabir) (345) dari hadist Al ‘Ars Ibnu ‘Umairah Al Kindi radhiyallahu ‘anhu. Hadist dihasankan oleh Albani dalam (Shahih Jami’) (702) dan (Shahih Abi Daud) (4345).]

Sebagai padanannya adalah ikhtilat yang terjadi kerana darurat, kepentingan yang mendesak dan keluarnya wanita dengan kaidah-kaidah syar’yiyah, seperti yang terjadi di tempat-tempat ibadah, tempat-tempat shalat, atau seperti yang terjadi pada pelaksanaan manasik haji dan umrah [Lihat (Fatawa Syaikh Muhammad bin Ibrahim) (10/22–44)] di kedua tanah haram, maka hal itu tidaklah terlarang.

Sebabnya adalah, keadaan darurat dan kepentingan tersebut merupakan pengecualian dari hukum asalnya, ditinjau dari satu sisi. Ditinjau dari sisi yang lain, kerosakan yang ditimbulkan oleh fitnah tersebut juga tertutup oleh kebaikan ibadah karena “jenis amal yang diperintahkan lebih utama dari jenis hal yang dilarang”, seperti yang tercantum dalam kaidah umum.

Adapun orang yang menyelisihi hukum asal wanita untuk tinggal di rumah dan keluar menuju pintu-pintu fitnah tanpa sebab yang membolehkannya atau tanpa ketentuan-ketentuan syari’ah berupa tabarruj, tanpa hijab, telanjang, dan aib, maka dia lebih memilih perbuatan dosa.

Ilmu hanyalah di sisi Allah Ta’ala, dan akhir seruan kami adalah segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam. Shalawat dan keselamatan semoga selalu tercurah kepada Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, keluarganya, sahabat-sahabatnya, dan saudara-saudaranya sampai hari kebangkitan.

Al Jazair 28 Sya’ban 1428 H, bertepatan dengan 10 September 2007 M.

***

Penulis: Syeikh Muhammad Ali Farqus Al-Jazairi
Penerjemah: Ustadz Didik Suyadi & Ustadz Adi Wira

Artikel: PengusahaMuslim.Com

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Theme: Rubric. Get a free blog at WordPress.com

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: